Sabtu, 10 Maret 2012

Etika kebidanan dalam layanan keluarga berencana

Penerapan etika dalam layanan kebidanan
A.    A. KONSELING
Konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam pelayanan keluarga berencana. Dengan melakukan konseling berarti petugas membantu klien dalam memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan sesuai pilihannya.
Jika klien belum mempunyai keputusan karena disebabkan ketidaktahuan klien tentang kontrasepsi yang akan digunakan, menjadi kewajiban bidan untuk memberikan informasi tentang kontrasepsi yang dapat dipergunakan oleh klien, dengan memberikan informasi tentang kontrasepsi yang dapat dipergunakan oleh klien, dengan memberikan beberapa alternative sehingga klien dapat memilih sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan yang dimilikinya.
1. TUJUAN KONSELING:
a.       Calon peserta KB memahami manfaat KB bagi dirinya maupun keluarganya.
b.      Calon peserta KB mempunyai pengetahuan yang baik tentang alasan berKB , cara menggunakan dan segala hal yang berkaitan dengan kontrasepsi.
c.       Calon peserta KB mengambil keputusan pilihan alat kontrasepsi
2.      SIKAP BIDAN DALAM MELAKUKAN KONSELING YANG BAIK TERUTAMA BAGI CALON KLIEN BARU
a.       Memperlakukan klien dengan baik
b.      Interaksi antara petugas dan klien
Bidan harus mendengarkan, mempelajari dan menanggapi keadaan klien serta mendorong agar klien berani berbicara dan bertanya
c.       Memberi informasi yang baik kepada klien
d.      Menghindari pemberian informasi yang berlebihan
Terlalu banyak informasi yang diberikan akan menyebabkan kesulitan bagi klien untuk mengingat hal yang penting.
e.       Tersedianya metode yang diinginkan klien
f.       Membantu klien untuk mengerti dan mengingat
Bidan memberi contoh alat kontrasepsi dan menjelaskan pada klien agar memahaminya dengan memperlihtkan bagaimana cara penggunaannya. Dapat dilakukan dengan dengan memperlihatkan dan menjelaskan dengan flipchart, poster, pamflet atau halaman bergambar.
3.      LANGKAH – LANGKAH KONSELING:
a.       Menciptakan suasana dan hubungan saling percaya
b.      Menggali permasalahan yang dihadapi dengan calon
c.       Memberikan penjelasan disertai penunjukan alat – alat kontrasepsi
d.      Membantu klien untuk memilih alat kontrasepsi yang tepat untuk dirinya sendiri.
4.      KETRAMPILAN DALAM KONSELING
a.       Mendengar dan mempelajari dengan menerapkan:
1.      Posisi kepala sama tinggi
2.      Beri perhatian dengan kontak mata
3.      Sediakan waktu
4.      Saling bersentuhan
5.      Sentuhlah dengan wajar
6.      Beri pertanyaan terbuka
7.      Berikan respon
8.      Berikan empati
9.      Refleks back
10.  Tidak menghakimi
b.      Membangun kepercayaan dan dukungan:
1.      Menerima yang dipikirkan dan dirasakan klien
2.      Memuji apa yang sudah dilakukan dengan benar
3.      Memberikan bantuan praktis
4.      Beri informasi yang benar
5.      Gunakan bahasa yang mudah dimengerti/sederhana
6.      Memberikan satu atau dua saran.

B.   B.  INFORMED CHOICE DAN INFORMED CONSENT DALAM PELAYANAN KELUARGA BERENCANA
Informed Choice adalah berarti membuat pilihan setelah mendapat penjelasan tentang alternative asuhan yang dialami. Pilihan atau choice lebih penting dari sudut pandang wanita yang memberi gambaran pemahaman masalah yang berhubungan dengan aspek etika dalam otonomi pribadi. Ini sejalan dengan Kode Etik Internasional Bidan bahwa : Bidan harus menghormati hak wanita setelah mendapatkan penjelasan dan mendorong wanita untuk menerima tanggung jawab dari pilihannya.
Setelah klien menentukan pilihan alat kontrasepsi yang dipilih, bidan berperan dalam proses pembuatan informed concent. Yang dimaksud. Informed Concent adalah persetujuan sepenuhnya yang diberikan oleh klien/pasien atau walinya kepada bidan untuk melakukan tindakan sesuai kebutuhan. Infomed concent adalah suatu proses bukan suatu formolir atau selembar kertas dan juga merupakan suatu dialog antara bidan dengan pasien/walinya yang didasari keterbukaan akal dan pikiran yang sehat dengan suatu birokratisasi yakni penandatanganan suatu formolir yang merupakan jaminan atau bukti bahwa persetujuan dari pihak pasien/walinya telah terjadi.
Dalam proses tersebut, bidan mungkin mengahadapi masalah yang berhubungan dengan agama sehingga bidan harus bersifat netral, jujur, tidak memaksakan suatu metode kontrasepsi tertentu. Mengingat bahwa belum ada satu metode kontrasepsi yang aman dan efektif, maka dengan melakukan informed choice dan infomed concent selain merupakan perlindungan bagi bidan juga membantu dampak rasa aman dan nyaman bagi pasien.
Sebagai contoh, bila bidan membuat persetujuan tertulis yang berhubungan dengan sterilisasi, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa sterilisasi bersifat permanen, adanya kemungkinan perubahan keadaan atau lingkungan klien, kemungkinan penyelesaian klien dan kemungkinan kegagalan dalam sterilisasi.

C. PENCEGAHAN INFEKSI
a.       Tujuan
1.      Memenuhi prasyarat pelayanan KB yang bermutu
2.      Mencegah infeksi silang dalam prosedur KB, terutama pada pelayanan kontrasepsi AKDR, suntik, susuk dan kontrasepsi mantap
3.      Menurunkan resiko transmisi penyakit menular seperti hepatitis B dan HIV/AIDS
b.      Kewaspadaan standar
Pelayanan KB membutuhkan kepatuhan melaksanakan tindakan sesuai dengan kewaspadaan standar (standar precaution)
Berikut merupakan cara pelaksanaan kewaspadaan standar
1.      Anggap setiap orang dapat menularkan infeksi
2.      Cuci tangan
3.      Gunakan sepasang sarung tangan sebelum menyentuh apapun yang basah seperti kulit terkelupas, membrane mukosa, darah atau duh tubuh lain, serta alat-alat yang telah dipakai dan bahan – bahan lain yang terkontaminasi atau sebelum melakukan tindakan invasive
4.      Gunakan pelindung fisik, untuk mengantisipasi percikan duh tubuh.
5.      Gunakan bahan antiseptic untuk membersihkan kulit maupun membrane mukosa sebelum melakukan operasi, membersihkan luka, menggosok tangan sebelum operasi dengan bahan antiseptic berbahan dasar alcohol
6.      Lakukan upaya kerja yang aman, seperti tidak memasang tutup jarum suntik, memberikan alat tajam dengan cara yang aman.
7.      Buang bahan – bahan terinfeksi setelah terpakai dengan aman untuk melindungi petugas pembuangan dan untuk mencegah cidera maupun penularan infeksi kepada masyarakat
8.      Pemrosesan terhadap instrument , sarung tangan, bahan lain setelah dipakai dengan cara mendekomentasikan dalam larutan klorin 0,5%, dicuci bersih, DTT dengan cara-cara yang dianjurkan.
D.    PENJELASAN / PENERANGAN YANG DIBERIKAN SAAT PEMASANGAN/ ALAT KONTRASEPSI
1.      Jelaskan kepada klien apa yang dilakukan dan mempersilahkan klien mengajukan pertanyaan
2.      Sampaikan pada klien kemungkinan akan merasa sedikit sakit pada beberapa langkah waktu pemasangan dan nanti akan diberitahu bila sampai pada langkah tersebut.
3.      Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya tentang keterangan yang telah diberikan dan tentang apa yang akan dilakukan pada dirinya.
4.      Peragakan peralatan yang akan digunakan serta jelaskan tentang prosedur apa yang akan dikerjakan
5.      Jelaskan bahwa klien akan mengalami sedikit rasa sakit saat penyuntikan anastesi local, sedangkan insersinya tidak akan menimbulkan nyeri (bila pemasangan AKBK)
6.      Tentramkan hati klien setelah tindakan

E.     PELAKSANAAN TINDAKAN SESUAI STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
Berdasarkan KEPMENKES RI No. 369/MENKEN/SK/III/2007 TENTANG STANDAR PROFESI BIDAN pada standar V TINDAKAN pada definisi operasional disebutkan bahwa tindakan kebidanan dilaksanakan sesuai dengan prosedur tetap dan wewenang bidan atau hasil kolaborasi
F.     MENJAGA KERAHASIAAN DAN PRIVASI KLIEN
Berdasarkan kode etik kebidanan salah satu kewajiban bidan terhadap tugasnya adalah setiap bidan harus menjamin kerahasiaan keterangan yang didapat dan atau dipercayakan kepadanya, kecuali bila diminta oleh pengadilan atau diperlukan sehubungan dengan kepentingan klien
G.    SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN PELAYANAN KB
Dalam tahun 2001 pencatatan dan pelaporan program KB Nasional dilaksanakan sesuai dengan sistim , pencatatan dan pelaporan yang disempurnakan melalui Instruksi Menteri Pemberdayaan Perempuan /KepalaBKKBN Nomor 191/HK-011/D2/2000 tanggal 29 September 2000.
Sistim pencatatan dan pelaporan program KB nasional saat ini telah disesuaikan dengan tuntutan informasi , desentralisasi dan perbaikan kualitas.
Sistim pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi meliputi:
1.      Kegiatan pelayanan kontrasepsi
2.      Hasil kegiatan pelayanan kontrasepsi baik di klinik maupun di BPS
3.      Pencatatan keadaan alat-alat kontrasepsi di klinik KB

2.4  Contoh kasus pelanggaran etika dalam layanan kebidanan
Tujuh tahun lalu istri saya melahirkan dengan operasi Caesar. Mengingat ingin mengatur jarak kelahiran, kami memutuskan untuk menggunakan KB suntik, namun ternyata tidak cocok sehingga beralih ke pil. Enam tahun berselang kami memutuskan untuk memiliki anak lagi. Setahun pil sudah tidak digunakan lagi, namun tanda-tanda kehamilan belum muncul. Sampai pada akhirnya pada 4 maret 2006, dokter melakukan USG. Hasilnya amat mengejutkan . Di dalam rahim istri saya terpasang IUD. Kami tidak pernah berkeinginan menggunakan alat kontrasepsi IUD. Kalaupun secara sadar menggunakannya , untuk apa masih menggunakan alat kontrasepsi suntik dan lalu pil selama 6 tahun ?
Kami menduga tindakan pemasangan ( tanpa sepengetahuan dan izin dari kami berdua) dilakukan saat istri saya dioperasi Caesar. Pihak RS saat itu sama sekali tidak menginformasikan kepada kami perihal pemasangan IUD. Istri saya dioperasi di RS Sunan Gunung Jati Cirebon.
Dengan kasus ini kami menuntut penjelasan dan ganti rugi kepada pihak rumah sakit, seraya mengingatkan kepada keluarga berputra satu lainya yang sulit mendapatkan anak kedua, Anda mungkin korban program KB yang dicananangkan.
Penyelesaian :
*      Dari segi hukum : kasus tsb. Merupakan pelanggaran hukum, karena tindakan pemasangan kontrasepsi IUD tsb tanpa konfirmasi atau persetujuan secara langsung dari kedua pihak (tenaga medis yang menangani dan pihak pasien), karena pasien mempunyai hak dalam memilih pemakaian kontrasepsi yang digunakan didalam rahim si pasien.
*      Dari segi agama : dari segi agama pemasangan kontrasepsi dibolehkan namun harus dilakukan sesuai prosedur termasuk persetujuan dari kedua belah pihak.
*      Dari segi etika : tindakan yang dilakukan tenaga medis di rumah sakit tsb termasuk melanggar kode etik dalam kebidanan karena tindakanya semena-mena tanpa melalui prosedur yang berlaku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar